Jumat, 20 Februari 2015

Amerika Latin

Nama   : Wiwin Rahmah Sari
Nim     : 1302045148
Tugas   : HIK ( Amerika Latin)
Dosen  : Ibu Uni W Sagena, S.IP, M.Si.Ph.D

Perkembangan Kawasan Amerika Latin
Istilah Amerika Latin muncul sebagai sebuah implikasi dari para penulis Perancis pada abad 19 kepada tiga sub-kawasan, yang antara lain; Amerika tengah, Karibia, dan Amerika selatan. Amerika latin adalah negara yang ada di belahan bumi barat sebelah selatan dan tenggara Amerika serikat, yang pernah di jajah oleh Negara eropa terutama Spanyol dan juga Portugal.
Banyak yang menjadi perintis dari gagasan-gagasan regionalisme dan kerjasama regional di kemudian hari. Setelah Kongres Panama, timbullah Kongres di Peru (Lima,1847) antara Peru, Bolivia, Chili, Ecuador, dan Granada Baru. Antara tahun 1847-1848 saja ada 19 pertemuan-pertemuan sejenis. Tercapai “Continental Treaty” antara Peru, Chili dan Ecuador (15 September 1856 di Santiago de Chile). Sebagai contoh, yang baru terjadi, ialah Konperensi Antar Amerika dari negara-negara Karibia di Havana/Kuba (1939), dan di sektor ekonomi antaranya timbul River Plata Regional Economic Conference di Montevideo, (Januari-Pebruari1941). Setelah Perang Dunia kedua, Meksiko menjadi tuan rumah dari Inter-American Conference on the Problems of War and Peace (Meksiko City, 1945).
Organsisasi yang bersifat regional maupun internasional terus digalang, dengan harapan akan tercipta keharmonisan politik dan kesejahteraan ekonomi di amerika latin. Organisasi tersebut misalnya saja The Organitation of american states (OAS), Organization de los Estados Americanus (OEA), kemudian di tahun 1975 muncul Sistema Economico latino Americano (SELA), Latin America free trade (LAFTA) yang kemudian berganti nama di tahun 18 maret 1981, menjadi, latin American Integration Association (LAIAI).
Faktor  pendorong regionalismo  di  Amerika  Latin
·                     Faktor Intern
Karena negara-negara di Amerika Latin memandang perlu adanya kerja sama kawasan (regional cooperation) untuk bersama-sama mengkonsolidasikan hasil-hasil perang kemerdekaan dan revolusi. Mereka juga memandang penting pula adanya kerjasama dalam membangun masyarakat Amerika Latin, walaupun masing-masing pemerintah akan menetapkan polanya sendiri.
·                     Faktor Ekstern
Masyarakat Amerika Latin melihat adanya bahaya yang mengancam, baik yang berupa intervensi fisik maupun intervensi politik yang kasar, maupun yang berupa penetrasi sosial, ekonomis dan kultural, serta bentuk-bentuk baru dari subversi asing yang lebih halus ramifikasinya.
Faktor  penghambat regionalismo  di  Amerika  Latin
Amerika Latin belum mampu bersaing dalam ekonomi internasional karena memiliki kinerja sektor teknologi yang lemah padahal di era globalisasi, teknologi menjadi alat utama pendorong industrialisasi  (Castells dan Laserna, 1989:539). Inilah yang menjadi faktor kedua menurunnya ekonomi Amerika Latin. Mereka juga tidak cukup mampu untuk mengimpor teknologi karena ekspor mereka tidak mencukupi untuk pertukaran tersebut. oleh karena itu Amerika Latin pada akhirnya mengambil jalan keluar dengan mengombinasikan kebijakan impor dan penggunaan teknologi endogen. Oleh karena keadaan inilah pada akhirnya Amerika Latin disetir oleh kepentingan Amerika Serikat untuk menukar teknologinya dengan penetrasi pasar (Castells dan Laserna, 1989:542). Hal ini dikarenakan pula oleh ketertarikan Amerika Serikat terhadap komoditas alam Amerika Latin yang tidak bisa didapatkan dalam negaranya sendiri. Oleh karena itu mereka memanfaatkan kondisi ini untuk memajukan perekonomian mereka sendiri dengan dalil membantu Amerika Latin lewat perusahaan multinasional yang beroperasi di negara-negara Amerika Latin. Di sini pasar keuangan dan lembaga-lembaga ekonomi Amerika Serikat mulai masuk dan mendominasi dalam arus modal Amerika Latin.

Pendapat Pesimis
Saya pesimis apabila kedepannya Amerika latin akan menjadi regionalisme yang lambat berkembang, hal ini dapat dilihat dari teori dependensi adalah teori yang muncul dari sejarah Amerika Latin, di mana ketergantungan ini menyerang sektor ekonomi yang lemah akibat kurangnya pengetahuan dan kinerja teknologi. Dari ketergantungan sektor ekonomi inilah kemudian sektor-sektor seperti sosial dan politik juga ikut disetir oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Menurut saya, revolusi teknologi telah mengintegrasikan negara dunia dalam satu sistem terpadu di bawah ekonomi internasional. Namun  teknologi juga telah membawa kelebihan dan kekurangan terhadap integrasi tersebut. Negara-negara yang mampu memperbaiki teknologinya akan menjadi pilot, sementara yang tertinggal akan menjadi penumpang yang hanya bisa mengikuti arah pilot mengemudikan pesawatnya.
Sistem kapitalis telah mendominasi. Pada era baru ini, sistem kapitalis telah memperkenalkan kita pada revolusi teknologi, formasi sistem ekonomi internasional, dan proses restrukturisasi dasar sosioekonomi. Amerika Latin sendiri pernah mengalami krisis sosial dan ekonomi yang menyebabkan mereka harus melakukan pemulihan besar-besaran, krisis ini disebabkan oleh masalah utang luar negeri dan kebijakan-kebijakan yang memperparah keadaan terhadap hal tersebut.
Pada masa ekspansi sistem kapitalis ke dunia, Amerika Latin telah melihat bahwa keadaan ekonominya memburuk dalam ekonomi internasional. Amerika Latin kehilangan daya saing, peran eksternal telah dikembangkan dengan fkous perdagangan pada Amerika Utara untuk restrukturisasi ekonomi sehingga muncullah bentuk ketergantungan baru, terutama terhadap OECD atau Organization for Economy Cooperation and Development (Castells dan Laserna, 1989:538). Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan menurunnya Amerika Latin dalam ekonomi dunia. Pertama, transformasi struktur perdagangan dunia, di mana bahan-bahan baku dan komoditas pertanian mulai menurun sementara barang-barang manufaktur semakin meningkat. Hal ini sangat tidak menguntungkan Amerika Latin karena mereka sangat lemah dalam pengolahan barang manufaktur sementara komoditas alamnya justru melimpah.

Refleksi
Kawasan Afrika
Saya lebih berminat pada kawasan Afrika, karena Afrika adalah regionalisme yang memiliki potensi yang perlu dipertimbangkan. Hal ini dapat dilihat dari SDA yang melimpah seperti; minyak, berlian, emas dan sebagainya.
            Untuk mendalami regionalisme di kawasan Afrika saya akan memfokuskan pada kemajuan perkembangan Regionalisme Afrika dengan melihat pada SDA yang dimiliki. Bagaimana Afrika dapat membangun integrasi di berbagai sektor, sehingga dapat menjadi kawasan yang tidak hanya menjadi tempat pengeksploitasian SDA saja, melainkan dapat menuntaskan kemiskinan yang sering melanda wilayah tersebut. Serta banyaknya konflik internal yang belum terselesaikan.
            Dengan mempelajari kawasan Afrika, saya telah memiliki wawasan tentang bagaimana keadaan di Afrika dan apa saja potensi yang dimiliki oleh Afrika. Selain itu, saya dapat mengetahui apa yang menjadi faktor penghambat dan pendorong di kawasan tersebut.
            Selain Afrika saya juga berminat untuk mendalami regionalisme di wilayah Asia Barat atau Timur Tengah yang memiliki banyak konflik, tetapi wilayahnya sangat diperhitungkan oleh negara-negara di dunia untuk dapat berinteraksi ke dalam wilayah tersebut. Timur Tengah adalah wilayah yang unik dan menarik untuk diteliti.
            Saya berharap untuk kedepannya dapat mengangkat judul skripsi dari kawasan Afrika dan dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang wilayah tersebut.




Referensi
Castells, Manuel dan Laserna, Roberto. 1989. “The New Dependency: Technological Change and Socioeconomic Restructuring in Latin America” dalam Sociological Forum, Vol. 4, No. 4, Special Issue: Comparative National Development:Theory and Facts for the 1990s, pp. 535-560. Published by: Springer.
Isnaeni, Debby R.  & Kurniawati, Sandra. 2011. Penerapan Teori Dependensi di Amerika Latin. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Kriger, L.S, meill K., jantzen, S.L.1994. WorldHistory fourth edition, Perspectives on The Past. Lexington: D.C. Heath
Parwito M Sitradj, (2014). Koran Jakarta : Masa Depan Amerika Latin
Santos, Theotonio dan Randall, Laura. 1998. “The Theoretical Foundations of the Cardoso Government: A New Stage of the Dependency-Theory Debate” dalam Latin American Perspectives, Vol. 25, No. 1, The Brazilian Left and Neoliberalism, pp. 53-70. Published by: Sage Publications, Inc.
http://prita-f-w-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-77698-MBP%20Amerika%20Latin-Teori%20Dependensi%20di%20Amerika%20Latin.html






Tidak ada komentar:

Posting Komentar