Rabu, 11 Maret 2015

Mengapa ada negara muslim yang paling tidak Islami, sementara ada negara Barat yang Islami?


Agama sangat berpengaruh, itulah sebabnya mengapa negara Barat lebih maju sedangkan negara muslim tidak maju, karena para penduduk Barat meninggalkan ajaran agamanya sedangkan negara-negara muslim pun juga meninggalkan agamanya, saat masyarakat Barat meninggalkan ajaran agamanya (kristen, dll) dan tanpa mereka sadari mereka menjalankan sistem syariah islam (sistem yang diciptakan Allah untuk manusia), sedang negara muslim yang ajarannya agamanya yang panduan hidupnya berdasarkan Al-qur’an dan hadist ditinggalkan dan berkeras menolak syariah islam dalam kehidupan bernegaranya dan beralih kepada aturan sistem hidup ciptaan manusia (demokrasi, monarki dll) dari sini kita sudah bisa melihat sebab utama kemunduran negara-negara muslim disebabkan karena umat muslim sendiri.

Mengapa akhlak islam itu dipakai oleh orang non islam, ternyata terbuktilah bahwa islam rahmat bagi seluruh alam, ajarannya applicable untuk seluruh umat. Kita harus terus belajar dan melihat dunia, apa yang salah dengan negara kita, kita lakukan evaluasi dan perbaikan mulai dari diri sendiri. Tak heran mengapa para Nabi diturunkan di daerah Arab, mungkin ada kultur yang berbeda, yang saat itu jaman jahiliyah, mereka berilmu tapi tidak berakhlak, maka Nabi diturunkan untuk menyempurnakan akhlak. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran / 3 : 110)

Di Indonesia korupsi merajalela, narkotika menjadi ‘biasa’ dengan hukuman yang bisa dinegosiasikan. Tatanan hukum yang memihak kepada yang mampu, bahkan yang bersalah pun bisa tetap bergaya dan tertawa dalam ‘jeruji’ besi. Lalu praktek-praktek hedonisme (pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup) memamerkan kemewahan bahkan dari mereka yang notabenenya dianggap sebagai guru spiritual atau pencerah jiwa. Selain itu juga perilaku buang sampah sembarangan. Belum lagi urusan lalu lintasan, juga sinetron yang tidak mendidik. Lalu dari mana kita bisa memulai memperbaiki attitude masyarakat Indonesia.

Hossein Askari, seorang guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington, AS, melakukan sebuah studi yang unik. Askari melakukan studi untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini nilai-nilai Islam paling banyak diaplikasikan. Hasil penelitian Askari yang meliputi 208 negara itu ternyata sangat mengejutkan karena tidak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar.

Dari studi itu, Askari mendapatkan Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru sebagai negara lima besar yang paling Islami di dunia. Negara-negara lain yang menurut Askari justru menerapkan ajalan Islam paling nyata adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia. Dalam melakukan penelitiannya, Askari mencoba membandingkan idealisme Islam dalam hal pencapaian ekonomi, pemerintahan, hak rakyat dan hak politik, serta hubungan internasional. Hasil penelitian Profesor Askari dan Profesor Scheherazade S Rehman ini dipublikasikan dalam Global Economy  Journal.

How Islamic are Islamic Countries? Katanya Arab Saudi no 134 dan Indonesia no 140. Sedangkan no 1-nya adalah New Zaeland, dan 20 peringkat pertama hampir semuanya diisi oleh negara Barat/Eropa seperti Kanada, Australia, Belanda, dll. Sebelum tiba-tiba merasa rendah diri, mestilah kita (umat Islam) memeriksa apa yang dimaksud dengan “being Islamic”. Di dalam penelitian itu “being Islamic” itu diukur dengan apa yang disebut
dengan Islamicity Index. Ternyata Islamicity Index ini hampir semua indikatornya adalah segala hal yang baik menurut Barat yang jauh sekali hubungannya dengan Islam. Contohnya seperti Gender Equality Index, Non Discriminatory Indicators, Labor Market Indicator, dan seterusnya (indikatornya cukup banyak). Bahkan lucunya sampai ada indikator perbandingan anak laki-laki dan perempuan di sekolah dasar dan menengah.

Dulu ada disebutkan bahwa bangsa Eropa dan Jepang lebih Islami daripada bangsa Muslim sendiri seperti Indonesia. Alasannya di sana lebih bersih, tertib, lebih sejahtera (ekonomi), lebih sedikit korupsi. Betul, lebih bersih tentu lebih Islami daripada yang kotor, lebih sedikit korupsi memang lebih Islami dari yang banyak korupsi, dan seterusnya. Tapi mengambil hal itu sebagai ukuran untuk menyebut bangsa Eropa dan Jepang lebih lebih Islami adalah berlebihan karena kenyataannya: di sana lebih banyak minuman keras di sana lebih banyak pelacuran, di sana lebih banyak makanan tidak halal, di sana lebih sedikit pengajaran al-Qur’an, di sana tidak ada pendidikan agama Islam di sekolah umum, di sana lebih banyak orang tua tunggal karena tingginya perceraian di sana lebih banyak hubungan tidak harmonis orang tua dan anak, di sana dilegalkan perkawinan homoseksual, di sana lebih banyak perzinahan, di sana lebih banyak orang yang tidak percaya Tuhan bahkan membenci-Nya, di sana lebih sedikit yang mengaku Muslim, di sana lebih sedikit sunnah Nabi yang diamalkan, di sana lebih sedikit orang yang berjilbab, dan lebih banyak yang nyaris telanjang, di sana lebih sedikit masjid di sana lebih sedikit yang menegakkan shalat berjamaah dst.

Bukankah semua ini lebih pantas untuk mengukur “How Islamic” itu? Jika indikator ini digunakan tentu hasilnya akan jauh berbeda. Penelitian ini tidak lain adalah pembajakan terhadap Islam. Mereka boleh saja membuat peringkat negara-negara paling sejahtera atau paling maju dengan menggunakan indikator-indikator semacam itu, tapi bukan paling Islami. Umat Islam semestinya tidak perlu terkecoh dengan penelitian semacam ini, kalau mereka memahami Islam dengan baik. (wendy zarman: ketua PIMPIN Bandung. Cabang dr INSISTS pusat di jkt. Organisasi penelitian di bidang pemikiran dan peradaban islam).

Kurang fair jika kita membandingkan kondisi sosial secara langsung antara Indonesia misalnya dengan Irlandia yang secara ekonomi jauh lebih baik dan lalu hasil perbandingannya dikaitkan ke agama. Maka, asumsinya adalah jika manusia enak/perut kenyang gampang senyum dan beramahtamah, tapi apabila miskin dan laper maka bawaannya survival.

Kita tidak dapat mendefinisikan Islam dengan hanya melihat dari kehidupan sosial atau Habluminannas tapi  Habluminallah-nya dilupakan.

Jika ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek:
-Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Negara yanang disebut lebih islami (contoh: jepang) tentu tidak menyembah tuhan yang di serukan Nabi Muhammad, dan tidak mengandung keislaman.

-Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial.
Memungut pajak yang tinggi dan tidak mensubsidi masyarakat, apakah sistem yang islami?
Hak suara yang sama antara seorang Prof dan yang tidak mengenyam pendidikan, atau seorang Sarjana Teknik yang bekerja dengan pengemis dan copet, sepertinya tidak adil dan tidak islami.

-Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Seandainya keterwakilan wanita yang jadi standar, maka Indonesia paling islami, karena banyak wanita diparlemen (UU nya hrs 30%, bahkan ada yang ikutan korupsi, dan pernah presidennya wanita, Amerika lebih 200 tahun tidak ada presidennya yang wanita, padahal Amerika merupakan negara yang paling demokratis.

-Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Belanda (menjajah Indonesia), Inggris (menjajah India, Mesir, negara-negara Afrika), Jepang, Portugal, Francis (menjajah Aljazair, Marocco), Amerika menghancurkan banyak negara dan pemerintahnya sekaligus seperti: Afghanistan (mencari Osama, dan ternyata sudah meninggal, tapi belum angkat kaki juga), Irak (hancur lebur, senjata kimia tidak ditemukan). Kolonialisme baru: Shell, BP, Mobil Oil, Cevron, Vico, Freefort, dan tidak adanya hak masyarakat setempat.

-Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Di Eropa (Belanda), Australia, sangat menjaga lingkungan dengan meminimalisasi pemakaian plastik, di australia membunuh seekor burung harus diganti dengan harganya, sebagai denda, tapi pada kenyataannya mereka begitu mudah mengotori negeri orang lain, membunuh anak-anak dan wanita yang tidak berdosa (Afghanistan, Irak, Libia), mungkin kah nyawa manusia lebih murah dari seekor burung.

Jka kita kesimpulan, bahwa: Kehidupan sosial negara eropa dan yang lainnya lebih baik dari Indonesia dan timur tengah, maka ‘’mengapa angka kematian akibat bunuh diri begitu tinggi di jepang dan negara-negara eropa?’’.
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_tingkat_bunuh_diri
Padahal sistem pendidikan hebat, transportasi lancar, masyarakat ramah, fasilitas terjamin, jalan- jalan bersih tidak berbau pesing. (Dikorsel ada artis yang bunuh diri karena tidak tahan dengan komentar masyarakat). Mungkinkah mereka bunuh diri karena pajak yang tinggi? Atau sebenarnya masyarakatnya masih kurang ramah?

Jika kita membandingkan kota mekkah yang merupakan kiblat umat islam seluruh dunia dengan kota seoul? tentu tidak sebanding, salah satu contoh adalah masalah toilet tentu lebih sulit diatasi di mekkah dibanding seoul. Saat jamaah sudah banyak yang pulang dan ke madinah kota mekkah agak lengang dan kondisi toilet pun sungguh bersih. Salah satu hadist : bila kita beribadah di tanah mekkah mukkarimah maka pahalanya 1000 kali lipat dari beribadah belahan didunia lainnya. Oleh karena itu seharusnya hal seperti itu haruslah diikhlaskan karena apapun yang kita alami di mekkah merupakan ujian dari Allah yang mendapat balasan berupa pahala 1000 kali lipat.

Selain itu kita juga perlu membedakan antara negara Islami dan negara Islam. Negara Islam adalah negara yang menerapkan dasar hukum Islam sebagai landasannya. Tetapi Negara Islami adalah negara yang bila dipandang dari dari sudut pandang Islam, maka negara itu masyarakatnya seakan-akan menerapkan ‘kaidah’ Islam, tetapi belum tentu masyarakatnya beragama Islam atau negaranya adalah negara Islam. Keduanya bisa sama, atau bisa juga tidak. Artinya misalnya negara Islam bisa jadi negara Islami, tetapi mungkin juga tidak, tergantung sifat masyarakat/pemerintahnya. Kuncinya adalah kondisi sosial budaya dari masyarakatnya yang menentukan apakah negara tersebut Islami atau tidak.

Negara-negara Barat sering menemukan suatu fakta yang baru tentang berbagai hal, sebagai contoh : tidak baik minum berdiri, tidak meniup makanan yang masih panas dll, yang dalam Islam sudah ada di hadist. Bisa dikatakan negara Barat merefleksikan Islam walaupun sebenarnya tidak tahu kalau itu merupakan ajaran Islam.

 “Semakin berada di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim semakin dekatlah kita dengan Tuhan”. Negara-negara tersebut yang ada di peringkat pertama atau kedua sedangkan Indonesia/Malaysia ada diperingkat ratusan karena mereka merasa berada di negara yang mayoritas muslim jadi tidak perlu harus sibuk bertengangrasa.




Senin, 09 Maret 2015

Sejarah Politik Islam

Karen Amstrong          : Penulis buku referensi

Sejarah Politik Islam secara umum terbagi menjadi 4 priode:
1.Periode permulaan : Hijrah Nabi Muhammad hingga akhir kekhalifahan Rasyidin (622 M-661 M).
2.Periode Perkembangan : Dinasti Umayyah, Abbasiyyah atau puncak Kekhalifahan dan negara-negara muslim (abad 18 M-19 M).
3.Periode Kemumunduran : Kedatangan kolonialisasi Barat.
4.Periode berdirinya kembali negara muslim independen/berdaulat (abad 21).

-Setiap periode memiliki karakter masing-masing di setiap kepemimpinannya.
-Kebanyakan negara-negara Barat ‘’apatis’’ terhadap negara Islam karena pada zaman  sekarang Islam tidak lagi menunjukkan citra keislamannya.
-Pada masa kini tidak ada negara yang benar-benar Islam sekalipun negara Arab yang merupakan tempat lahirnya agama Islam.
-Periode Islam yang paling ideal adalah pada periode Nabi Muhammad.

Hubungan Politik-Negara (fungsi dan karakter agama)
-Pandangan pertama : Agama sebatas ritual (bersifat temporer), tidak ada urusannya dengan duniawi.
 Contoh : Puasa, shalat, dll.
-Pandangan kedua : Memandang peran dan fungsi agama secara luas yang mencakup seluruh kehidupan manusia baik duniawi maupun akhirat.

Islam berpandangan kedua, dasarnya:
1.Agama kesatuan (fungsi : integrasi).
2.Agama in action, fungsi : desainnya. Figur Nabi Muhammad adalah desain terbaik, terpadu, humanis dan memiliki rasa keadilan sosial-politik.
3.Al-Qur’an tidak mencegah Nabi Muhammad berperan dalam dunia dan menjalankan misi-misi Ke-Nabian.
4.Nabi Muhammad menjadi pemimpin kaumnya, Nabi tidak dapat acuh terhadap masalah sosial-politik maupun kemanan bagi kaumnya.
5.Tujuan agama dan Nabi adalah membangun masyarakat SEHAT (hidup dalam kebajikan, murah hati, kasih sayang, menghargai sesama).
6.Dalam Al-Qur’an disebutkan : “mereka yang beriman dan beramal shaleh’’.

-Sebagai umat Islam kita hendaknya menyebut Tuhan itu “Esa” buakan satu, karena apabila ada satu, maka dua, tiga dan sterusnya akan mengikuti (menganggap Tuhan lebih dari satu).
-Manusia memiliki campuran sifat-sifat yaitu sifat malaikat dan binatang.
-Sebagai manusia kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia maupun akhirat.
‘’Bekerjalah engkau untuk kepentingan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah engkau untuk kepentingan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok’’.
- ‘’hiduplah secara sederhana’’.
-Berpikir sampai pada tahap theologis, maka kita akan mengetahui bahwa semua kebenaran dan ada kaitannya dengan agama (Al-Qur’an) dan jangan pula malu untuk berbicara dengan pemikiran theologis (ceramah seperti Ustadz).
-Agama Islam adalah agama yang benar-benar agama karena berasal dari Wahyu Allah, tidak seperti agama lainnya yang berasal dari pemikiran manusia atau yang disebut dengan ‘’agama kebudayaan’’.
-‘’Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan kita’’.

Negara Islam Pertama
-Dimulai ketika hijrah Nabi Muhammad dan pengikutnya dari Mekkah ke Madinah.
-Hijrah : fisik dan batin.
-Madinah awalnya Yastrib adalah negara pertama, dipimpin dan diawasi oleh Nabi Muhammad.
-Situasi kacau, rawan dan tidak aman.
-Dihuni 5 suku, Yahudi : 3 suku (terpecah-pecah), Islam 2 suku, dan sisanya kaum Pagan (penyembah berhala).
-Penduduk selalu mencari tokoh yang dapat mengendalikan suku-suku dan melakukan perdamaian.
-Kondisi tersebut membuat warga Madinah tertarik pada Islam dan figur Nabi Muhammad.
-Nabi Muhammad penengah yang adil atau tidak berat sebelah.

Konstitusi dan Sistem Administrasi
-Piagam Madinah : 52 klausul (ketentuan).
-Mengatur hubungan agama Islam & Yahudi tentang apa yang menjadi tanggung jawab bersama.
-Mendukung Yahudi memiliki harta dan mengamalkan agamanya sendiri.
-Realitas geografis, sosial, kultural, ekonomi rakyat.
-Nabi Muhammad membawa perubahan revolusioner (perubahan yang drastis atau cepat) tentang kehidupan sipil ikatan omunitas berdasarkan pakta/perjanjian yang dibuat secara sukarela (lebih mengikat daripada suku).
-Konstitusi Madinah : kepentingan umat/komunitas diatas kepentingan suku/golongan.


Fakta
1.Mengandung agama yang politis dan afiliasi suku dan agama.
2.Menjamin kemerdekaan beragam (liberal).
3.Kemerdekaan sepenuhnya pada suku untuk mengatur dirinya (federal)
4.Bai’at dan kesetiaan pada umat (masyarakat/komunitas) menggantikan kesetiaan yang lain.

Kepala Negara dan Metode Pemilihan
-Sukarela dipilih (tidak ada dalam Al-Qur’an)
-Khalifah setelah Nabi Muhammad :
1.Abu Bakar Ash-Siddiq : dipilih dibalai rakyat karena desakan umat, 2 tahun memerintah hingga akhirnya beliau meninggal karena sakit.
2.Umar bin Khattab : ditunjuk oleh Abu Bakar Ash-Siddiq karena situasi politik, 10 tahun memerintah hingga akhirnya meninggal karena terbunuh (ditusuk oleh Abu Lu’luah pada saat shalat subuh berjamaah).
3.Ustman bin Affan : dipilih dari seleksi tim/komisi (beranggotakan 6 sahabat Nabi) metode baru, 12 tahun memerintah hingga akhirnya beliau meninggal karena terbunuh (dibantai oleh pemberontak karena fitnah).
4.Ali bin Abi Thalib : didesak oleh para sahabat, 5 tahun memerintah hingga akhirnya meninggal karena dibunuh oleh kaum khawarji (kelompok yang sesat).
-Akhir Kekhalifahan Rasyidin.
-awal kekuasaan bersifat Dinasti/Kerajaan

-akhirnya dijajah Barat pada abad 18-19 M.